free counter statistics
Home » Cerita Bokep » Cerita dewasa Gadis Muda Penjaga Warnet | Cerita Sex 15 Februari 2019

Cerita dewasa Gadis Muda Penjaga Warnet | Cerita Sex 15 Februari 2019

Bokep Barat Favoritnya Pria

Situs bokepbarat.net ini merupakan situs yang sangat menarik dan sudah menjadi favoritnya kamu pria,situs ini akan selalu menyediakan video video terhot yang akan membuat para kaum pria lebih bergairah dan birahi.situs ini akan menyediakan video bokep barat dan cerita seks yang sangat mengairahkan sekali bagi para pecinta dan pengemar bokep ini kunjungilah selalu situs bokepbarat.net ini karena setiap harinya akan selalu memberikan video video dan cerita yang terbaru yang paling terhot dan terpanas bagi kaum pria

Rini tidak mengenakan seragam SMP saat memasuki warnet. Aku yang di dekat pintu bisa melihat dengan jelas anak ini sudah besar sekarang. Tubuhnya bagus, ranum. Ia berjalan ke meja kasir, berbicara sebentar dengan Yuni pegawainya yang tomboy berkulit gelap, kemudian bertukar tempat dengannya. Rini menjaga warnet sekarang.

Warnet ini langgananku, membantuku saat aku kehabisan quota pulsa internet di GSM modemku. Dari pada browsing lambat dengan laptopku, aku lebih suka berjalan sebentar ke warnet dekat rumah, sebelum mengisi ulang pulsa GSM ku.

Warnet ini sedang kosong, tinggal aku sendiri dengan Rani, dan Yuni yang sekarang telah duduk diseberangku, meghadap monitor dan serius menulis sesuatu di lembar facebooknya. Aku berjalan ke arah Rani sambil merogoh dompetku, menyiapkan uang ribuan tuk membayar sewanya yang cuma sebentar. Rani di belakang meja, menghitung uang dan mencocokan dengan tagihan di monitor, lalu mengeluarkan recehan kembaliannya.

“Rani sekarang jadi petugas di sini ?” tanyaku perlahan
“iya mas, aku ndak bisa nerusin ke SMU, bapak ngomong kalo aku kerja aja dulu sebentar bantuin keluarga”
“Terus yang nawari kerja di sini siapa ?”
“mbak Yuni mas, katanya biar bagi2 aja hasilnya, kan mbak yuni juga ingin nyantai main facebook di komputer”.
“Yang di meja sini tidak bisa buka facebook ?” tanyaku
“Yo ndak mas, kan ndak boleh sama pak Dodo.”
“Tapi kalo emang bisa buka, kamu mau ?” tanyaku sambil bergerak ke belakang meja

Rani duduk di kursi sambil mengangkat kakinya sedikit ke atas, bersandar dengan laci kecil di bawahnya. Ia menggeser tubuh kecilnya ke kiri, tuk memberiku tempat di situ. Kubuka explorer, kucoba browse ke facebook, tapi yang muncul kotak putih. disitu terlihat angka 127.0.0.1 di kotak atas. Ah, segera kubuka prompt window, memanggil file host dan mengubah sedikit barisan di dalamnya
”coba saja sekarang”aku bergerak keluar meja, kepintu, bergerak keluara warnet

tapi segera ku hentikan langkahku, kuputar tanda tutup yang menghadap kearahku, yang sekarang berbalik menjadi tanda buka. Warnet kunyatakan tutup sekarang. Aku kembali ke meja rini, sambil melirik ke yuni yang sekarang berjoget ria ditempat duduknya, mendengarkan musik dengan kencang di headphone di kepalanya. Yuni sedang asyik sendiri.

Kubuka lembaran home page mesin pencari. Kali ini sengaja kubuka situs yang menempel promosi gambar dan film porno di kiri kanan nya. Rani terbelalak, terlihat jelas dari pantulan benda metal di speaker komputer di hadapanku. Terlihat ia melirikku sebentar, tapi lali melotot ke arah monitor tanpa berucap apa2.

Sengaja multi tab di browser sudah kubuka banyak situs gambar dan film porno yang lagsung ku klik tuk streamingnya. kupelankan volume speakernya, kali ini kucoba pura2 download lagunya Linkinpark. Tapi windows yang bertebaran itu sudah menampilkan dengan jelas adegan yang Rani belum pernah lihat. Tanganya masih di atas meja saat kusentuh perlahan

”tanganmu mungil rani” bisikku tangannya masih dimeja dengan otot yang tegang.
”kulitmu juga putih, seperti gadis yang ini”tambahku

Kuangkat tangannya, kuarahkan ke gadis tanpa busana yang berpose sexy di sudut layar. Sekarang kuaktifkan webcam di depanku. Sambil mengaktifkan window di belakang yang terlihat pria wanita melakukan sex di taman, aku mulai melihat window baru muncul memperlihatkan wajah kami berdua di monitor. Rani masih melongo melihat apa saja yang ada di depannya. sambil sesekali bergetar menggigil. ah, kubiarkan ia menikmati pemandangan di depannya beberapa menit. Kemudian kutampilkan gadis belasan tahun yang bugil tanpa busana, berpose macam2 di monitor.

”rani,cewek ini kulit dan dadany bagus”
”punyamu seperti ini juga kan ya?”
tanpa sadar ia melihat kebawah memperhatikan bentuk miliknya.
”punya dia mungkin segini”tanganku kedepan layar mencoba pura-pura mengukur telapak tanganku
”kalau punya rani..”
rani terkejut saat tanganku sudah menangkap salah satu buah dadany. Ditepisnya, tapi matanya tak pernah lepas dari monitor.
”kalau punya rani pasti bagus”bisikku

perlahan kurangkul tangan kiriku kepunggung rani, sambil mencoba meraih bawah lengan kirinya. Rini diam saja, matanya masih ke depan. Kali ini tangan kananku mencoba lagi kedada rani. Berlagak mencoba mengukur besar cup di dadanya, aku telah menyentuh buah didadany, dan perlahan kuremas. Kali ini dengan kedua tangan aku telah meremas kedua buah dada rani sambil sedikit membungkuk merasa geli, rani menggoyangkan bahunya menolak.

”nanti kuajari cara-cara memakai komputer, agar bisa bikin film sendiri rani.”kuperlihatkan sekarang streaming webcamnya menampilkan preview dirinya disebelahku.
Rani berekspresi dimuka webcam, mengerutkan kening dan macam-macam raut muka ditampilkan. Dengan perlahan tapi pasti tanganku mulai masuk ke balik baju rani. Kutegakkan dudukku, mulailah tanganku merayap kemana-mana di bawah bajunya.

Kuremas terus perlahan buah dadanya yang masih ranum itu, perlahan kuangkat ke atas cup penutupnya. Tanpa ada bahan pemlindung dan pemisah, tanganku mulai meremas-remas perlahan. Beberapa saat kemudian, bahunya dinaikkan, ketiaknya terbuka, Rani memalingkan kepalanya, menatapku. Matanya terlihat bertanya-tanya. Tanpa pikir panjang, kali ini tambah kudekatkan tubuhku, kuturunkan tangan kiriku, meraba dan mengusap perutnya. Rani berkedip kedip sebentar. Kemudian tanganku turun lagi, kali ini menyentuh celana dalam di balik roknya yang sudah kusingkap. Kuremas perlahan tubuhnya di dada dan bawah perutnya, pangkal pahanya. Terasa Rani mulai bergerak gelisah. nafasnya mulai turun naik.

tanganku mulai bergerak ke balik celana dalam Rani. tangannya menggenggam erat papan penahan keyboard di depannya. Kurasakan tanganku tidak menyentuh sehelai bulu satupun saat beraksi di bagian bawah Rani Gerakan gelisahnya makin kentara. Akhirnya tangannya melepas papan laci keyboard di depannya. Berputar setengah duduknya, ia kini menghadapku. Bergerak merangkulku di leher, matanya terpejam. mulutnya terbuka. Kaki kirinya diangkat naik ke bangku. Tangankupun kini bebas ke mana-mana di tubuhnya. Kuraba semua bagian tubuh Rani yang masih hijau ini, kurasakan semua benjolan dan lekukan tubuhnya yang masih ranum. Belum ada yang memetiknya. Aku yang pertama.

”huaah…”mulutnya terbuka mengeluarkan suara dan udara hangat dari dalam tubuhnya.
Tubuhnya gemetar sesaat, mencengkram lenganku, dan leherku.
Kuhentikan kegiatanku. Kubiarkan ia bersandar kembali di kursi perlahan-lahan. matanya menerawang menatap sayu ke depan. Rani terlihat bingung, tanpa berkata apa2 ditatapnya wajahku. Kurapikan baju, bra, celana dan rok bawah Rani. Kututup semua windows aktif yang menampilkan gambar2 panas tersbut. Kubersihkan bekas2nya. Kubisikan perlahan

”ya itulah yang dicari orang-orang selama ini rani”sambil kucium belakang telinganya
”kau harus pandai agar pacarmu bahagia nanti”
”kalau kamu mau tau lebih banyak lagi, main-main aja kekamarku. Kau tahukan kontrakanku?”

setelah kukecup keningnya, aku perlahan ke luar warnet. Kulihat rani masih menatap punggungku, bengong, kulihat dari jendela kaca didepanku saat kuraih papan sinyal buka dan tutup itu. Saat kututup pintu warnet, kusempat melirik rani yang sekarang menunduk memperhatikan pangkal pahanya dengan tangan satunya lagi memegang dadanya.

Kami berharap dengan adanya situs ini akan membuat semua kaum pria bisa lebih memuaskan istri dan sangat bergairah dalam berurusan diranjang

Ayo share...
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone
Penulis: admin
Tags
Menu Title